Thursday, May 9, 2019

                         Lia Fuan kmanek
        Waktu mengayunkan langkahnya dan menghantarku pada dunia dewasa. Sampai saat ini, wanita itu masih sering kulihat berdiri di tempat yang sama, memandang dengan raut penyesalan yang terpancar. Namun kerasnya hati ayah untuk selalu mengunci pagar, membuatnya berhenti pada posisi yang sama. Aku hanya mengintip dari celah gorden jendela, memperhatikan sorot mata wanita itu.
        Saat itu usiaku menginjak delapan belas tahun. Aku mendapat jawaban atas semuanya itu. Dalam gelap yang mulai menjemput, wanita itu berada di depan rumah. Ayah tak sempat menggembok pintu gerbang. Ditelingaku masih tergiang teriakan ayah menyuruh wanita itu pergi.
        "Densi, lebih baik kamu pergi sekarang!" (Mingguan Hidup, Edisi 17 tahun ke-73, 28 April 2019, hal. 49

No comments:

Post a Comment